Bella marah. Bella marah. Bella marah.
Kenapa sih dia tidak bisa jadi wanita dewasa? Kita bukan anak SMP lagi, apa pacaran harus melulu bersama-sama?
Dia tahu pasti pensi kali ini bukan acara yang mudah karena lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya, juga artis papan atas yang banyak maunya itu, manager yang cerewet, dan sejuta (oke,tentu ini berlebihan) lomba2 yang diajukan para siswa dan guru.
Oh Bella... Tidak bisakah ia hanya menjadi penyejuk jiwa ku yang tengah hampir meledak ini?.
Selesai, akhirnya selesai jadwal ulang yang diminta manager sialan itu. Saatnya membujuk Bella, setidaknya mengantar dia pulang akan membuatnya tak marah lagi padaku.
Kulihat wanita cantik itu berjalan keluar dari kelasnya dengan muka masih tampak masam, huft... Aku harus menjadi kepala dingin kali ini.
Terlambat, para bodyguard nya telah lebih dulu sampai disamping Bella, dan suara nyaring segera terdengar dari arah mereka.
"Bella...."
Kurasa suaraku cukup nyaring, namun ia bahkan tak menoleh.
"Nak Arka, bapak ada yang mau disampaikan tentang lomba esai yang kemarin" tiba2 pak Dodi menghadang ku dan menyeret paksa keruang guru.
Oh... aku akan melihat Bella marah lebih lama lagi. BAD.
Bersambung