20 September 2018
SELAMAT BERUSIA 25 TAHUN VERA NURHASNA ZAIN
SELAMAT SEPEREMPAT ABAD
“Anak kecil jangan mau tau urusan orang dewasa”
Pernyataan tersebut seringkali membuat saya tersinggung.
Di usia saya yang 25 tahun baru kesadaran tentang dunia orang dewasa mulai merayap, mulai saya pahami hal-hal yang sulit di jelaskan kepada seseorang yang belum mengalami.
Kala kesadaran saya di usia 17 tahun. Keadaan lambat laun beranjak. Saya memiliki banyak adik kelas. Saya lulus SMA. Saya mulai berkuliah.
Dunia baru yang tanpa disadari menjadi ladang untuk mencari jati diri dan membentuk sedikit lebih dari diri saya yang kini berusia 25 tahun.
Pencapaian apa yang sudah saya dapatkan di usia 25 tahun ini?
Tentu tidak banyak
Saya menyelesaikan jenjang S1 saat teman saya hampir rampung S2
Saya bekerja saat teman saya menikah mungkin karena saat saya ingin menikah mereka sudah bekerja
Saya merasa terlambat menginjak dunia baru
Apa dampaknya?
Pencapaian saya dan partner saya. Semuanya berubah seketika menjadi terlampau jauh.
Rekan saya bisa berbeda selisih 3 sampai 4 tahun
Saya merasa seharusnya tidak demikian untuk tingkat jabatan yang sama saya berharap mereka seumuran atau selisih 1 sampai 2 tahun.
Saya resah.
Kita seharusnya tidak pernah tua
Kita akan merasa masih SD jika bertemu kembali dengan teman SD kita
Kita akan merasa masih SMP jika bertemu kembali dengan teman SMP kita
Kita akan merasa masih SMA jika bertemu kembali dengan teman SMA kita
Kita akan merasa masih Mahasiswa jika bertemu kembali dengan teman Kuliah kita
Meskipun kita temui di ruang pertemuan, di cafe coffe, di arisan, di daycare dan dimanapun itu tempatnya didunia ini.
Masalah yang tadinya berat menjadi ringan dan ringan menjadi berat
Misalkan
Pertemanan. Menjadi hal rumit saat usia saya masih belasan. Menjadi begitu penting memiliki teman dekat bukan untuk kebutuhan pribadi tapi sebagai ajang kebutuhan sosial.
Pertengkaran. Saat usia 25 tahun, pertengkarang anak usia belasan terlihat sangat sepele dan kita seolah tau yang terbaik dan yang seharusnya dilakukan. Namun tentu tidak demikian
Uang. Saat usia belasan kita sepenuhnya mengandalkan orang tua dan orang yang lebih tua untuk memenuhi kebutuhan kita. Saat usia 25 tahun. Bahkan jika kita tidak memiliki uang kita tak akan sampai hati membuat orang lain tahu.
Tuntutan menjadi dewasa
Saat usia 25 tahun. Semua persoalan yang ada dan tingkah laku adat istiadat harus dilakukan dengan sikap yang dewasa. Mengapa? Karena itu sudah tuntutan masyarakat.
Kita tidak akan bebas menonton doraemon jika anak kecil disekitar kita memilih tobot atau little poni. Kita menjadi sok anak kecil dan tidak mengalah. Kita akan dihakimi dan diberi label itu.
Selera
Tak dapat dipungkiri selera kita akan berubah meskipun jaman juga memang selalu mengalami perubahan.
Misalnya
Boyband korea yang muncul pada 5 atau 6 tahun lebih menarik bagi saya daripada boyband yang baru muncul 1 tahun belakangan ini atau 2 tahun belakangan. Mengapa?
Mungkin karena saat itu saya juga masih muda, masih berhasrat pada hal yang demikian itu, masih begitu merasakan apa itu yang namanya kesenangan menggilai boyband korea. Saat usia 25 tahun saya hanya kembali ke masalalu, masa saat saya menjadi penggila boyband 5 atau 6 tahun lalu.
Kesadaran
Saat usia 25 tahun saya semakin menyadari bahwa kehidupan ini akan berakhir. Benar-benar akan berakhir. Saat saya mulai banyak memiliki teman yang sudah menikah, teman yang sudah memiliki anak, teman yang sakit parah, dan teman yang meninggal.
Bukan dalam pemahaman memang didunia hanya sementara. Tapi dengan pemahaman bahwa dunia ini akan berakhir seperti ketika kita bercermin. Tepat didepan mata.
Apa saat umur belasan kita tidak mengetahui itu? Tentu tau. Hanya saja saat itu dengan kesadaran melihat dari pantai sebuah gunung. Terasa jauh.
Pasangan
Pernah dengar ungkapan wanita memilih pria tergantung usia? Tahapan pertama yang tampan yang cerdas dan terakhir yang mapan kalau tidak salah. Sedangkan pria hanya menginginkan wanita cantik dan muda.
Agaknya tidak salah. Hanya saja. Di usia 25 tahun ini saya juga baru menyadari. Entah dengan yang lain. Tentang hubungan itu memang harus saling percaya. Percaya dan mempercayai. Memang seperti memegang lapisan es tipis yang setiap saat bisa pecah dan berantakan jika penempatan yang tidak baik. Namun ternyata saat ini, itu sangat berguna. Untuk yang mengalami hubungan LDR seperti saya itu sangat berarti.
Saya, seumur hidup, selama 25 tahun terakhir ini, hanya menjalin hubungan dengan 1 orang. Meskipun saya tidak menampik pernah memiliki perasaan berbeda kepada beberapa lelaki yang pernah saya temui selama perjalanan 25 tahun ini. Namun itu hanya sebatas angan atau saya sendiri yang sengaja menarik diri agar tidak terlibat.
Kenapa ini menjadi kebangaan?
Karena saya melihat yang lain bisa dengan bebas berganti dan itu menjadi hal yang biasa
Kemudian terbit pula hal ini di benak saya.
Kriteria pasangan. Mengapa? Bukannya kalau jodoh nanti juga bakal ketemu sendiri?
Sebenarnya saya tidak bermaksud meminta seseorang mencari pasangan sesuai dengan apa yang dia inginkan. Hanya saja jika pasangan memiliki salah satu kriteria yang kita inginkan itu sangat membantu kita dalam menjalin hubungan. Kita bisa antusias ingin mengetahui pasangan kita lebih jauh, seberapa banyak persamaan yang kita miliki atau seberapa banyak perbedaan yang kita miliki
Dunia ini SANGAT luas
Jangan pernah terjebak dengan intrik dunia
Ketika di tengah hutan kita merasa kota lebih baik
Ketika di daerah kita merasa kota lebih baik
Ketika dikota kita merasa kota lain lebih baik
Ketika kita di kota lain kita merasa negara lain lebih baik
Ketika dinegara lain kita merasa planet lain lebih baik
Dan pada akhirnya kita akan mendapati kita merindukan dengan sangat di tengah hutan
Bagi saya di usia 25 tahun ini. Hasrat saya ingin rasanya berkeliling dunia, berkeliling kota. Namun yang ebih saya inginkan adalah mengenang semua tempat yang menyimpan kenangan saya, sepaht apapun kenangan atau semanis apapun kenangan ia menghadirkan rasa yang sama. Kerinduan.