Pernah LDR ?
Ketika LDR, coba baca bukunya rahvayana karya Sudjiwo Tedjo, kenapa?
Karena ada kisah Rahwana yang mencinta Sinta bahkan ketika Sinta tidak bernama Sinta, reinkarnasi nya pun Rahwana tetap mencinta.
Bagi saya LDR pun demikian, meski banyaknya cara berkomunikasi yang digaungkan teknologi jaman sekarang, bagi saya kerinduan tak akan mampu dientaskan hanya dengan teknologi yang canggih. Kerinduan berakhir ketika mata saling memandang raga satu sama lain. Disitulah akhir kata rindu.
LDR bagi saya mencintai jiwa yang entah bagaimana selalu ada disisi, dengan caranya sendiri. LDR adalah bukti adanya ikatan tak kasat mata. Tak perlu lah pertemuan 24 jam nonstop jika jiwa-jiwa telah di ikat satu sama lain. Karena keberadaan jiwa terasa lebih dalam manakala kita kembali mengenang ingatan2 lampau, atau merajut angan2 yang akan datang.
Bersyukur kunci utama. Betapa kita bersyukur memiliki kecintaan itu, rasa yang Tuhan anugrah kan kepada setiap insan yang mengerti. Rasa yang sanggup mengenyangkan lapar dahaga akan dunia yang fana. Rasa yang dapat memacu adrenalin laiknya bermain rollercoaster.
LDR itu sebegitu indahnya. Namun perlu diingat, keindahan memiliki wajah lainnya, teman sejawatnya, apa itu? Bagi saya penyiksaan dan kehampaan. Saat mengagungkan kecintaan kadang tetiba terbersit rasa penyiksaan karena tak mampu bertemu raga, kehampaan karena ia tiada dua.
Sungguh kadang menyiksa meski membuat bahagia. Begitulah mencinta, seperti harus menelan madu dan racun sekaligus, pahit dan manis terasa bersamaan.
Begitulah mencintai jiwa. Perlu pengorbanan ekstra karena kenikmatan ekstra pula. Maka seperti Rahwana yang aku tau selalu mencinta Sinta. Aku ingin pula mencinta demikian, cinta yang terus bertumbuh bukan antar raga -raga yang tak kekal itu- namun antar jiwa. Mencintai jiwa yang mengenyahkan konsep ruang dan waktu.