Apa Kabar Dunia Hari Ini?
Judul tersebut merupakan sebuah tema peringatan hari lingkungan hidup tahun ini yang menjadi inspirasi tersendiri tentunya dalam memaknai arti Lingkungan bagi kita.
Berada di jurusan Perbankan seringkali saya di tanya mengenai hubungan antara lingkungan dan perbankan, sebutlah bidang ekonomi. awalnya sayapun mengerutkan dahi, antara bingung dan mencoba berargumen egois agar terdapat benang merah antar keduanya. Lingkungan merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Sedangkan ekonomi adalah ilmu sosial yang mempelajari aktifitas manusia yang berhubungan dengan produksi, barang dan jasa.
Akhirnya ada titik terang saat saya menemukan Ekonomi Lingkungan. Sebuah ilmu yang mempelajari perilaku atau kegiatana manusia dalam memanfaatkan Sumber Daya Alam dan lingkungannya yang terbatas sehingga fungsi atau peranan SDA dan lingkungan tersebut dapat dipertahankan dan bahkan penggunaannya dapat di tingkatkan dalam jangka panjang atau berkelanjutan.
Berada di jurusan Perbankan seringkali saya di tanya mengenai hubungan antara lingkungan dan perbankan, sebutlah bidang ekonomi. awalnya sayapun mengerutkan dahi, antara bingung dan mencoba berargumen egois agar terdapat benang merah antar keduanya. Lingkungan merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Sedangkan ekonomi adalah ilmu sosial yang mempelajari aktifitas manusia yang berhubungan dengan produksi, barang dan jasa.
Akhirnya ada titik terang saat saya menemukan Ekonomi Lingkungan. Sebuah ilmu yang mempelajari perilaku atau kegiatana manusia dalam memanfaatkan Sumber Daya Alam dan lingkungannya yang terbatas sehingga fungsi atau peranan SDA dan lingkungan tersebut dapat dipertahankan dan bahkan penggunaannya dapat di tingkatkan dalam jangka panjang atau berkelanjutan.
Mari Berkisah, dimulai dari sebuah pengalaman pribadi, awal saya memasuki dunia perkuliahan tepatnya di Universitas Islam Jakarta di daerah Tangerang Selatan, dan seperti biasa awal perkuliahan banyak diramaikan Kegiatan Mahasiswa dalam wadah UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), dan disitulah mimpi saya mulai tumbuh, mimpi idealisme seorang mahasiswa yang menggebu-gebu, rasa ingin tahu yang kerap kali memberontak.
Untuk menarik mahasiswa agar bergabung dengan UKM, biasanya terdapat banyak kegiatan requitmen atau penerimaan anggota baru, dan yang menarik minat saya saat itu ada SEKALI (Sekolah Kader Lingkungan), entah kenapa kata "Lingkungan" menjadi magnet tersendiri, mungkin karna kehidupan sehari-hari kita pasti berkaitan dengan lingkungan. Saya mendaftar sebagai peserta, belakangan saya tidak dapat hadir karna satu dan lain hal.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, saya rasa berjodoh dengan penyelenggara acara tersebut yaitu KMPLHK RANITA (Kelompok Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan kembaRa Insani Ibnu Battutah) tidak banyak yang saya tahu namun demikian sekali lagi ada magnet kata "Lingkungan" yang membius saya.
Serangkaian proses menjadi anggotanya saya banyak tertegun dan mulai membayangkan, saya mulai berani bermimpi, dalam prosesnya saya menemukan yang ingin saya lakukan, apalagi kalau bukan tentang "lingkungan". Saya mendapat materi tentang Advokasi Lingkungan dan temanya saat itu RTH (Ruang Terbuka Hijau) yang disampaikan oleh pelatih Zarkasih Tanjung sang Aktifis lingkungan yang selalu saya kagumi.
Kesempatan untuk mempelajari hal baru dan langsung bersinggungan dengan kondisi dilapangan yang sangat tidak singkron sangat mengecewakan, seperti yang diamanatkan UU Nomor 26 Tahun 2007 bahwa RTH minimal 30 % dan kemudian di atur dalam Permen PU No. 5 Tahun 2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan
Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan yang terdiri dari 20 % RTH publik dan 10 % RTH privat. RTH publik biasanya di kelola oleh pemerintah misalnya taman kota, hutan kota atau daerah tepi sungai, sedangkan RTH privat dikelola masyarakat misalnya dengan adanya halaman di depan rumah atau bisa juga halaman kantor milik swasta.
Setelah mempelajari materi kami beranjak studi lapangan ke lokasi sekitar kami yakni SITU sebagai bagian dari RTH , saat itu kami mengunjungi situ Pamulang, situ yang terletak di Desa Pamulang Timur Bambu Apus Kecamatan Pamulang Barat. berdasarkan wawancara kami dengan warga sekitar, banyak yang mengeluh tentang sumber air yang berubah rasa, banjir yang datang bila hujan lebat (setelah di usut ternyata pintu air di situ tersebut kurang mendapat kontrol dari pemerintah sehingga banyak sampah yang menutup pintu air juga adanya pembuangan sampah dari perumahan disekitarnya adanya pendangkalan serta penyempitan lahan juga menjadi alasan lainnya).
Sangat sedikit daerah yang dapat memenuhi RTH 30 %, terutama di kota besar dan penyangganya, misalnya, Tangerang Selatan yang berdekatan dengan Ibukota Jakarta memiliki banyak pemukiman yang padat penduduk. Pemukiman padat penduduk merupakan masalah lainnya, di daerah kelurahan lebak bulus terdapat pemukiman padat penduduk yang dekat dengan kali, kontur daereah yang membentuk huruf "U" ini ketika hujan datang maka daerah rendah dekat sungai akan terendam hingga atap rumah, menurut tokoh masyarakat setempat daerah tersebut awalnya merupakan sebuah rawa dan sungai yang besar, karna pertambahn penduduk yang sangat pesat maka sungai semakin menyempit dan kurangnya daerah resapan air karna banyak yang sudah di semen tanpa adanya biopiori (resapan air) yang memadai, bagi saya terlihat seperti air yang kebingungan karna tempatnya yang banyak di ambil alih oleh manusia sehingga ia akhirnya menupuk pada satu tempat dan pada waktu tertentu.
Pernah mendengar siklus banjir 5 tahunan? disana termasuk menerima dampak yang cukup signifikan. Padahal kita harusnya telah dapat memahami adanya siklus air, air yang menguap menjadi awan dan kembali turun ke bumi, jika bumi banyak di semen/ jalanan banyak di cor beton, selokan yang di tiadakan fungsinya, lalu kemana air harus mengalir? rekayasa apapun yang dilakukan, air terkadang hanya ingin berjumpa sahabatnya sang tanah. Begitulah alam, saat saya mencoba memahami kondisi alam dan lingkungan tak dapat di tampik saya bersinggungan pula dengan kondisi sosial yang ada pada masyarakat terdampak. Masyarakat terdampak kurangnya RTH dan banjir diatas masih minim pengetahuan meski terdapat karang taruna namun biasanya kurang aktif atau hanya aktif ketika terjadi perstiwa tertentu.
Disinilah pentingnya sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyrakat) untuk membantu sebuah masyarakat atau sebuah komunitas untuk memahami permasalahan yang ada disekitarnya dan membangun kekuatan penyelesainnya di dalam masyarakat tersebut. Misalnya KMPLHK RANITA meski masih dibawah naungan universitas namun dapat berkontribusi misalnya dengan aksi menolak kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, atau dapat memberikan pengetahuan sebagai kapasitasnya sebagai mahasiswa yakni mengadakan diskusi, seminar maupun pelatihan mengenai lingkungan tersebut, atau LSM seperti WALHI, JATAM, WWF, dll yang secara khusus dapat bekerja sama dengan masyarkat terdampak sekaligus perusahan-perusahan yang pro terhadap lingkungan untuk menggagas desain-desain dan ide-ide untuk Lingkungan yang lebih seimbang.
Disinilah pentingnya sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyrakat) untuk membantu sebuah masyarakat atau sebuah komunitas untuk memahami permasalahan yang ada disekitarnya dan membangun kekuatan penyelesainnya di dalam masyarakat tersebut. Misalnya KMPLHK RANITA meski masih dibawah naungan universitas namun dapat berkontribusi misalnya dengan aksi menolak kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, atau dapat memberikan pengetahuan sebagai kapasitasnya sebagai mahasiswa yakni mengadakan diskusi, seminar maupun pelatihan mengenai lingkungan tersebut, atau LSM seperti WALHI, JATAM, WWF, dll yang secara khusus dapat bekerja sama dengan masyarkat terdampak sekaligus perusahan-perusahan yang pro terhadap lingkungan untuk menggagas desain-desain dan ide-ide untuk Lingkungan yang lebih seimbang.
Suatu kali saya pernah berdiskusi dan mendapat pertanyaan "Apa Isu Lingkungan yang Hits atau yang populer saat ini?", saya diam tak mampu menjawab, apa coba?
- Perubahan Iklim - Global Warming?
- Degradasi Lahan?
- Limbah?
- Reklamasi Pantai?
- RTH?
- Hutan?
- Hewan yang semakin Punah?
- Polusi? Polusi Udara atau Air?
- Sampah Plastik?
- Laut yang tercemar minyak atau sampah? penangkap ikan yang memakai bom dan menghancurkan karang?
- Konservasi?
- Sumber Daya Alam yang kian menipis?
- Energi?
- Peraturan Pemerintah yang Pro Pengusaha Penghancur Sumber Daya Alam?
- Tambang yang hasil kerukannya meninggalkan lubang-lubang menganga dan tak jarang timbul korban?
- Nelayan yang makin tak tentu hasil tanggakapannya?
- Petani yang kalah saing sama barang Impor?
- Sungai paling tercemar di dunia?
- Asia Pengkonsumsi Gading gajah terbesar?
- Hiu?
- Sampah Makanan?
- Ketahanan Pangan?
- Sampah Makanan?
- Ketahanan Pangan?
- ............
Dan saya sampai pada sebuah pemikiran, lingkungan dan permasalahannya selalu berulang, bedanya, semakin hari bumi semakin kritis, manusia adalah bagian dari lingkungan itu sendiri seperti satu koin dengan mata yang berbeda, artinya, pemerintah sebagai pemangku kebijakan harus ekstra bekerja keras dengan pembuktian akan janji lingkungan lebih baik dan terlebih penting partisipasi masyarakat jauh lebih penting dari semua, kesadaran hidup dengan kesimbangan antara pemenuhan hak dan kewajiban kita pada Alam.
Saya mendapati maraknya kerusakan lingkungan diakibatkan karna faktor ekonomi, baik skala "untuk pemenuhan kebutuhan pokok" maupun "untuk mengumpulkan pundi-pundi kekayaan sebagian kecil pihak berkuasa". Apapun motifnya, manusia bukan sebuah entitas yang paling signifikan di alam semesta (Antroposentrisme) namun manusia dan alam harus saling berdampingan misalnya dengan mempertahankan kearifan lokal yang ada sehingga dapat menjaga keseimbangan pada ekosistem. Ketika pemahaman manusia akan tanah, tumbuhan, satwa, iklim dan lainnya dijungjung tinggi maka manusia dan alam akan mendaptkan porsi masing-masing tanpa ada yang dirugikan (Ekopopulisme).
Saya mendapati maraknya kerusakan lingkungan diakibatkan karna faktor ekonomi, baik skala "untuk pemenuhan kebutuhan pokok" maupun "untuk mengumpulkan pundi-pundi kekayaan sebagian kecil pihak berkuasa". Apapun motifnya, manusia bukan sebuah entitas yang paling signifikan di alam semesta (Antroposentrisme) namun manusia dan alam harus saling berdampingan misalnya dengan mempertahankan kearifan lokal yang ada sehingga dapat menjaga keseimbangan pada ekosistem. Ketika pemahaman manusia akan tanah, tumbuhan, satwa, iklim dan lainnya dijungjung tinggi maka manusia dan alam akan mendaptkan porsi masing-masing tanpa ada yang dirugikan (Ekopopulisme).
Mimpi -mimpi kita yang terbentang sepanjang dunia agar masih ada secercah kehidupan untuk anak cucu kita, kita hanya manusi dengan keterbatasan akan alam yang luas, jadi tak perlu berpikir keras bagaimana menggunakan magic agar alam dan menjadi baik begitu saja, yang penting AKSI, hal kecil yang kita lakukan tetap jadi bukti kePERDULIan kita pada BUMI.
Sekian sepenggal kisah ini, hidup manusia hanya perjalanan pendek yang akan berestafet, namun alam yang satu ini telah dilalui banyak perjalanan-perjalanan pendek. Meski bumi suatu saat juga akan berakhir perjalanannya namun tidak berarti kita hanya berdiam diri tanpa melakukan apa-apa. Mari bermimpi, Mari beraksi. Banyak jalan menuju Roma, alon-alon asal kelakon.
Sekian sepenggal kisah ini, hidup manusia hanya perjalanan pendek yang akan berestafet, namun alam yang satu ini telah dilalui banyak perjalanan-perjalanan pendek. Meski bumi suatu saat juga akan berakhir perjalanannya namun tidak berarti kita hanya berdiam diri tanpa melakukan apa-apa. Mari bermimpi, Mari beraksi. Banyak jalan menuju Roma, alon-alon asal kelakon.
HAPPY ENVIRONMENT DAY, MAKE WORLD HAPPY WITH OUR CARE :)
“Seven Billion Dreams. One Planet. Consume with Care“
*dikutip dari berbagai sumber
keren keren keren
BalasHapus