Senin, 26 November 2018

Tentang kehilangan

Telah berpulang Denok ma'rifah, Senin 26 November 2018

Allah memberikan lagi pembelajaran yang begitu telak.

Terakhir melihat beliau, beliau masih tengah berjuang. Teguh kenyakinan tapi sepenuhnya pasrah. Yang terucap darinya ungkapan maaf kepada tiap insan yang menemuinya.

Aku pun berteguh ia akan mampu melalui nya kali ini, seperti tahun-tahun sebelumnya ia mampu bertahan dan kembali ke ruangan meski dengan muka pucat pasinya.

Aku merasa sesak, menahan tangis. Sedih kehilangan, sedih bahwa tentu juga kita akan kembali kepadanya.

Kenapa ia di ambil saat aku merasa tak ingin ia di ambil?

Ya Allah... Ampuni segala dosanya, semoga ia Khusnul khatimah, di lebarkan kuburan nya, di jauhkan dari siksa kubur.

Ya Allah engkau sebaik-baiknya pencipta, yang mengatur segala dunia seisinya. Jadikan ia penghuni surga yang terdekat dengan-Mu sayangi ia dan para pendahulu kami, sayangi ia karena sayang-Mu Rahmat bagi seluruh alam.

Ya Allah... Jadikan hamba dan muslimin muslimat orang-orang yang tabah, jadikan hamba dan muslimin muslimat menjadi semakin lebih baik sebelum Engkau panggil.

Karena manusia dan dunia seisinya hanya kefanaan. Segalanya akan kembali pada sang pencipta.

Beberapa hari lalu menemukan catatan Seno Gumira Ajidarma, dan jika ada kata2 terakhir, mungkin itu cukup mengungkapkannya.

Selamat jalan Bu Denok, kita sayang ibu, tapi Allah bener2 sayang banget  sama ibu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

jadi dewasa lebih awal

Adebu yang ditinggal mandi langsung tidur sendiri karena ngga enak badan Bayi ibu yang dulu sepanjang tangan sekarang udah seten...